Alasan Mui Izinkan Vaksin Astrazeneca Meski Haram Mengandung Babi

Written by Juki on July 22, 2020 in Efektivitas Vaksin Covid with no comments.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan akan meninjau studi tentang virus G4 dan mengatakan temuan itu menekankan pentingnya terus mengendalikan influenza ketika ancaman Covid-19 belum surut. Sementara Dr. Angela Rasmussen, seorang ahli virus di sekolah kesehatan umum Universitas Columbia, memperingatkan masyarakat untuk tidak “panik”. Artinya, dia melanjutkan, vaksin Covid-19 yang sudah lolos uji klinis tahap ketiga dan WHO juga sudah mendaftarkannya sebagai vaksin yang bisa digunakan maka artinya sama kualitas keamanan dan manfaatnya. Mengutip Republika.co.id, Ketua Satgas Covid-19 IDI, Zubairi Djoerban, menjelaskan, Inggris telah memakai lebih dari 20 juta dosis vaksin Astrazeneca untuk penduduknya. JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM -– Ikatan Dokter Indonesia menyarankan agar vaksin Covid-19 produksi Astrazeneca tidak diberikan pada orang usia muda dan dalam kondisi sehat. Fatwa No 14 tahun 2021, tanggal 17 Maret fatwa tersebut diserahkan ke pemerintah.

“Dari hasil kajian ditemukan vaksin AstraZeneca menggunakan bahan asal babi dalam dua tahap. Bahan ini digunakan untuk memisahkan sel inang dari microcarrier-nya,” kata Direktur Eksekutif LPPOM MUI, Muti Arintawati dalam rilis yang diterima Republika.co,id, Ahad (21/3). Sebelumnya, MUI menyatakan vaksin AstraZeneca mengandung unsur haram karena menggunakan tripsin babi dalam proses pembuatannya. Namun, MUI memperbolehkan penggunaan AstraZeneca dalam kondisi darurat untuk menghentikan darurat kesehatan pandemi COVID-19.

Vaksin Astrazeneca babi

Karena, manfaat yang diberikan dari vaksin ini, serta dengan pertimbangan kondisi darurat yang terjadi saat ini akibat pandemi COVID-19. Untuk itu, di produk akhir vaksin Covid-19 Astra Zeneca sudah tidak ada unsur babi sama sekali. Juru Bicara AstraZeneca Indonesia Rizman Abudaeri mengatakan, semua proses produksi vaksinnya tidak menggunakan atau bersentuhan dengan bahan dari hewan apa pun. Pada Jumat lalu Majelis Ulama Indonesia menyatakan vaksin AstraZeneca haram karena dibuat menggunakan bahan dari babi yakni tripsin yang diambil dari pankreas. Hasanuddin mengungkapkan bahwa kebijakan serupa juga pernah diambil MUI soal izin penggunaan vaksin meningitis untuk jemaah haji dan umroh pada 2010 dan vaksin campak dan rubella pada 2018 silam.

Dan tidak jelas manfaat suatu vaksin apalagi jika mudaratnya jauh lebih besar. Jadi hukum haram tidak hanya dipandang dari kandungan bendanya, tetapi juga pada proses maupun manfaatnya,” tuturnya. Sekadar diketahui, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam mengatakan vaksin Covid-19 AstraZeneca tergolong haram karena dalam proses produksinya memanfaatkan tripsin babi. Asrorun mengatakan alasan kelima, adalah pemerintah yang tak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin.

Kandidat vaksin ChAdoX1 yang dikembangkan tidak menyebabkan virus bereplikasi (non-replicating virus), sehingga tidak akan menimbulkan infeksi pada mereka yang divaksinasi. Namun untuk dapat memahaminya, Anda perlu mengetahui bagaimana proses vaksin Covid-19 AstraZeneca atau AZD 1222 ini diproduksi. Dengan catatan tersebut, MUI pun menyatakan vaksin Covid-19 AstraZeneca haram, tetapi boleh digunakan.

“Pemahaman kami tentang apa yang berpotensi menjadi jenis pandemi influenza terbatas,” katanya di akun Twitter. “Tentu, virus ini memenuhi banyak kriteria dasar tetapi tidak pasti akan menyebabkan pandemi flu 2020, atau bahkan menjadi pressure dominan pada manusia,” katanya dikutip laman CNN. Studi ini dengan jelas menunjukkan bahwa virus dapat ditularkan dari hewan ke manusia, tetapi tidak ada bukti yang jelas bahwa penularan antara manusia adalah masalah utama bagi para ilmuwan. Setelah itu, para peneliti meminta langkah-langkah segera untuk diambil untuk memantau pekerja yang terlibat dalam peternakan atau pusat pemotongan babi. Banyak fenomena KIPI dari penggunaan vaksi tersebut, setidaknya terjadi 262 kasus dan yang meninggal dunia sebanyak sixty nine jiwa. antvklik.com – Menurut Nadia, penghentian itu dilakaukan sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah dalam program vasinasi nasional demi Indonesia terbebas dari Covid-19.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan hanya satu dari 40 batch vaksin Covid-19 AstraZeneca yang dihentikan sementara penggunaan dan distribusinya. Sedangkan untuk 39 batch lainnya masih tetap didistribusikan dan digunakan. Tapi saya yakin akan aman saja karena efek dari dosis pertama tidak terlalu parah. “SADS-CoV berasal dari kelelawar coronavirus yang disebut HKU2, yang merupakan kelompok virus heterogen dengan sebaran di seluruh dunia,” kata Edwards. Diyakinkan pula oleh pihak AstraZeneca bahwa vaksin ini telah disetujui di lebih dari 70 negara di seluruh dunia dan termasuk oleh negara-negara muslim.

Pihak produsen menegaskan vaksinnya merupakan vaksin vektor virus yang tidak mengandung produk berasal dari hewan seperti yang telah dikonfirmasikan oleh Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris. Sementara itu, MUI memandang besarnya manfaat dari vaksin covid-19 buatan AstraZeneca. Serta, mempertimbangkan kondisi darurat yang terjadi akibat pandemi covid-19. Pemerintah melalui Jurubicara vaksinasi Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi ikut angkat bicara terkait hal ini, untuk menjelaskan fatwa MUI terhadap vaksin AstraZeneca yang memang menemukan kandungan tripsin yang berasal dari pankreas babi. Ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid guna ikhtiar mewujudkan herd immunity. Setelah dibantah vaksin AstraZeneca tidak mengandung babi, pengamat kesehatan menjelaskan proses pembuatannya halal dan boleh digunakan masyarakat muslim.

Comments are closed.